Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2008

 

            Di tengah puncak kejayaan dan kesombongannya, Qurays merasa ada petir di siang bolong. Betapa tidak, kuasa yang sudah tergenggam kuat berabad lamanya kini mulai dirasa ada penentangnya. Bukan dari luar bangsa mereka, akan tetapi datang dari anak kandung mereka sendiri. Orang yang selama ini dikenali dengan gelaran Al Amin, kini datang membawa ajaran yang mengguncang. Awalnya Qurays tidak menaruh curiga karena secara sepintas tidak ada hal yang baru. Bukankah kalangan hanifiyyin juga telah mendahului Rosululloh SAW membawa pesan moral dalam kehidupan? Namun mereka salah perkiraan, ajaran yang kini dibawa Rosululloh SAW sudah mulai mengusik persoalan besar. Ada sebuah gelombang reformasi dahsyat jika da’wah beliau dibiarkan. Nikmatnya berkuasa dengan segudang bayaran, fasilitas, dan kehormatan membuat mereka gerah dan gelisah jika semuanya harus binasa. Ya, ajaran baru ini dirasa nikmat oleh rakyat jelata namun tidak bagi penguasa. Benak mereka dipenuhi oleh suasana ancaman jika ajaran baru ini dibiarkan. Membiarkannya berarti bunuh diri, seluruh kepentingan, kehormatan dan warisan tradisi akan rusak binasa.   (more…)

Advertisements

Read Full Post »

“Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran:165)”Ayat ini menggambarkan kondisi umat Islam pada saat mengalami kekalahan dalam perang Uhud. Mereka kehilangan tujuh puluh syuhada, ditambah lagi dengan sejumlah korban luka-luka. Padahal mereka berjuang di jalan Allah. Sementara musuh mereka orang-orang kafir berjuang di jalan setan. Sebelumnya, pada saat perang Badar, mereka menang, dan bisa menggugurkan tujuh puluh orang, serta bisa menangkap tujuh puluh tawanan dari pasukan kafir. Mengapa kekalahan itu terjadi di Uhud, padahal jumlah mereka di Uhud lebih banyak dari pada di Badar?

(more…)

Read Full Post »

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat: 33-35).

Ayat di atas merupakan bekal utama bagi para aktivis dakwah di jalan Allah (dai), agar selalu semangat dan istiqamah, tidak pernah gentar dan getir, senantiasa menjalankan tugasnya dengan tenang, tidak emosional dan seterusnya. Ayat tersebut diletakkan setelah sebelumnya di awal surat Fushshilat Allah menggambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima ajaran Allah. “Mereka mengatakan: hati kami tertutup, (maka kami tidak bisa menerima) apa yang kamu serukan kepadanya, pun telinga kami tersumbat, lebih dari itu di antara kami dan kamu ada dinding pemisah.” (Fushshilat: 5). Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas dakwah jika yang dihadapi adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran, tidak mau diajak kepada kebaikan, lebih dari itu ia menyerang, memusuhi dan melemparkan ancaman.  

(more…)

Read Full Post »

Ruhiyah adalah bekal yang terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seorang da’i. Ruhiyah inilah yang akan memotivasi, menggerakkan dan kemudian menilai setiap perbuatan yang dilakukannya.. Keberadaan ruhiyah yang baik dan stabil menentukan kualitas sukses hidup seseorang, demikian juga dengan dakwah. Sangat tepat ungkapan yang menyatakan, “Ar-Ruhiyah qablad dakwah kama Annal Ilma qablal qauli wal amal”. Ungkapan ini merupakan “iqtibas” (Kutipan) dari salah satu judul bab dalam kitab shahih Al-Bukhari, “Berilmu sebelum berbicara dan beramal, demikian juga memiliki ruhiyah yang baik sebelum berdakwah dan berjuang”.

Dalam konteks dakwah, menjaga dan mempertahankan ruhiyah harus senantiasa dilakukan sebelum beranjak ke medan dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa mempersiapkan bekal ruhiyah yang maksimal, bisa jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga ruhiyahnya yang sedang ”kering”. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian lakukanlah amal kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad”. (Al-Hajj: 77-78)

(more…)

Read Full Post »

Wahai ayahanda, kalau bukan karena surga, tentu aku akan lebih mendahulukanmu (Sa’ad bin Khaitsumah)

Kata-kata itu terlontar dari seorang anak kepada ayahnya. Ungkapan itu bukanlah bentuk ketidaksopanan anak terhadap orang tuanya. Itulah ungkapan keimanan akan sebuah keyakinan terhadap sebuah pilihan yang besar di sisi Allah. Kemenangan besar selalu didahului oleh kemenangan-kemenangan kecil. Dalam sejarah kemenangan kaum muslimin di medan pertempuran, terdapat pernik-pernik kisah kemenangan yang dialami masing-masing individunya. Kemenangan mengatasi hawa nafsu, ketakutan, kegamangan, kemenangan menghadapi tekanan dan teror keluarga dan masyarakat, kemenangan dari sisi moral, dan kemenangan menata hati menjadikan niat perjuangannya hanya untuk mendapat karunia Allah. Bahkan kemenangan-kemenangan kecil itu menjadi prasyarat bagi turunnya kemenangan besar.

(more…)

Read Full Post »

Kemenangan yang diraih dalam perjuangan dapat menggoda sebagian orang untuk mengklaim –baik secara eksplisit maupun implisit– bahwa dirinyalah yang paling berjasa untuk kemenangan itu. Atau, kalaupun bukan merasa yang paling berjasa, paling tidak mengklaim bahwa dirinya berada dalam jajaran orang-orang berjasa. Dan karenanya, jama’ah dakwah diuntungkan dan berhutang jasa terhadap dirinya. Dalam perasaannya, wajar –bahkan ada yang menganggap harus– bila jama’ah dakwah memberikan kompensasi-kompensasi atas perjuangannya itu.

(more…)

Read Full Post »

Hidup adalah ujian dan tantangan, tanpa optimisme sulit rasanya menikmati kehidupan. Kelemahan dan keputus asaan akan menyelimuti seluruh benak fikiran. Jangankan menambah energi kehidupan mempertahankan nilai kebaikan yang dimilikipun sangat sulit dilakukan. Potensi sebesar apapun akan hilang berganti dengan beragam ketidak berdayaan. Fikiran menerawang tentang halangan dan rintangan yang makin hari makin membesar. Tiada usaha tiada karya yang ada hanya keluh dan kesah. Hari-hari dipenuhi oleh awan hitam yang menggelapkan pandangan. Sungguh mustahil sebuah kebesaran akan lahir dari orang-orang yang penuh pesimis. Membangun kebaikan bagi dirinya saja ia tidak mampu bagaimana mungkin membangun kebaikan bagi orang lain? Karenanya tak ada dalam sejarah sebuah kemenangan diperoleh oleh orang-orang yang putus asa.            (more…)

Read Full Post »

Older Posts »